
Segera setelah PKI melakukan aksi sepihak dalam perselisihan land reform, pada 1965, NU merespon dengan agresif. Kota-kota di Jawa Timur seperti Bondowoso, Jember, dan Pasuruan pun mengalami suasana menegangkan. Dalam pertikaian berdarah itu, "NU memperlihatkan vitalitas yang mengejutkan." (Brackman, 2000: 40)
Arnold C. Brackman, dalam "Cornell Paper: Di Balik Kolapsnya PKI", juga menambahkan, militer hanya berdiri di pinggir menyaksikan kekuatan-kekuatan yang bersekutu saling melumpuhkan.
Pendapat Brackman kurang lebih sama dengan yang diutarakan oleh Hermawan Sulistyo dalam "Palu Arit di Ladang Tebu". Sulistyo bahkan sempat menceritakan secara detil bagaimana Gerakan Pemuda Anshor, organisasi "underbow" NU, mengumpulkan massa di alun-alun Kota Kediri pada pagi sehari setelah penculikan para Jenderal. Itulah saat-saat penting sebelum PKI dibantai habis-habisan.
Sejauh saya menangkap, dua penulis ini tanpa ragu, dan tanpa sedikit pun ragu, menempatkan NU sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap terbantainya ribuan kader dan simpatisan PKI di Jawa Timur. Bahkan keduanya menggunakan analisis yang hampir persis: perselisihan NU dan PKI dipicu oleh perebutan lahan. Sulistyo menambahkan sedikit, ketegangan juga timbul karena kedua organisasi ini pada dasarnya memiliki basis massa yang yang sama, yaitu apa yang disebut kaum komunis sebagai "proletar".
Akan tetapi, sungguh pun saya bukan sejarahwan, bolehkan saya untuk meragukan anggapan itu. Ada tiga hal yang melatarbelakangi.
Pertama, Angkatan Darat dengan cepat melakukan konsolidasi di bawah komando Soeharto. Dalam konstelasi Jakarta, mereka lah yang paling berkepentingan dengan penumpasan PKI. Mustahil, dengan kekuatan sebesar itu, mereka hanya diam di Jawa Timur menyaksikan NU menyelesaikan pekerjaan mereka.
Kedua, afiliasi orang per orang terhadap NU atau PKI tidak amat nyata. Ini tidak seperti tawuran, misalnya, antara SMK 1 dan SMK 2 yang sudah jelas-jelas mana massa yang mana. Banyak orang tidak menyadadari aktivitas kelompoknya ternyata digerakkan oleh BTI, atau Gerwani, atau Lekra dan seterusnya. Dengan demikian, masyarakat pun banyak yang tak mampu saling mengidentifikasi ke mana tetangga atau teman mereka berafiliasi.
Jika kemudian terjadi pembantaian yang secara persis memilih orang-orang tertentu, maka pelakunya pasti memegang daftar anggota PKI yang tercatat secara formal. Sesuatu yang lebih mungkin dimiliki oleh militer.
Ketiga, berdasarkan pengakuan ketua GP Anshor Kabupaten Blitar, sebutlah RD (dengan alasan yang sama Sulistyo menyamarkan nama ketua GP Anshor Kota Kediri), Anshor tidak pernah mengorganisir kadernya untuk melakukan pembantaian. "Tidak ada yang tahu persis siapa yang melakukan pembantaian, kami hanya tiba-tiba menyaksikan banyak mayat terbuang di sungai-sungai."
AS, Ketua NU Blitar kala itu, yang juga kakek saya, bercerita, "Saat itu banyak yang meminta pertimbangan, jawab saya, kita sebaiknya pasif karena kita tidak benar-benar paham apa yang saat ini tengah berlangsung."[]
Monday, November 09, 2009
NU nan disebut-sebut
Thursday, November 05, 2009
Kegilaan Jumat sore
Pesawat kami akan terbang jam 17.40. Kami baru mencapai Semanggi sekitar 16.00. Tetapi inilah satu-satunya pemandangan yang bisa diberikan Jakarta Jumat sore itu pada kami yang tertekan.
Penderitaan tidak berhenti di situ. Polisi lalu lintas menutup pintu tol, sepertinya dengan alasan masuk akal dan pertimbangan yang matang (buset). Nama-nama binatang pun masuk ke mobil kami, karena pintu tol berikutnya masih di Slipi.
Walhasil, sudah tentu lah kami ketinggalan pesawat.
Semoga Tuhan memberi petunjuk pada Jakarta :)
Wednesday, October 28, 2009
Bukan idealis lagi
Malam itu saya sedang kembali dari Gramedia Pandanaran, saat melihat sekumpulan anak muda berkumpul di depan panggung sederhana yang gelap. Mereka berada tepat di tengah bulevar Universitas Diponegoro. Sejujurnya, pikiran pertama saya adalah, "Dasar mahasiswa..."
Pikiran itu muncul justru karena saya juga pernah menjadi mahasiswa jenis mereka. Yaitu memilih untuk mondar-mandir di dunia aktivisme. Mereka adalah mahasiswa yang percaya bahwa anak kampus memiliki kesempatan berupa kritisisme untuk menyembuhkan struktur sosial yang sakit.
Tetapi kala itu saya bukan aktivis yang baik. Saya bosan dengan segala wacana tentang ideal-ideal masyarakat dan negara. Apalagi kalau sudah main comot pemikiran dari Socrates hingga Nietzsche, dari modernisme hingga nihilisme, kuping saya selalu gatal. Itu basis akademik saya, memang, tapi entah kenapa selalu terdengar menggelikan kalau diutarakan dengan mengharubiru oleh teman-teman saya yang aktivis.
Saya juga jengkel apabila mereka sudah menilai mahasiswa yang, istilah ini begitu populer di lingkungan mereka, "study oriented" sebagai "teralienasi" dari realitas. Setidaknya itu saya dengar dari teman-teman saya yang aktivis, untuk tak mengatakan bahwa semua aktivis sama.
Saya tidak menyiapkan bantahan panjang lebar. Hanya, bagi saya, mahasiswa yang "study oriented" dan kelak menjadi teknokrat atau apapun istilahnya, setidaknya telah berusaha menyelamatkan keberlangsungan dirinya. Dan sesungguhnya bukan hanya itu. Sebab dalam kehidupan yang bergerak cepat ini, kita butuh orang yang mengerti bumi untuk mengantisipasi gempa, orang yang mau melotot pada angka-angka untuk mencegah inflasi, dan bahkan seorang pegawai sederhana yang mau dengan telaten menyusun buku-buku di rak perpustakaan.
Meningat hal demikian, kadang saya pikir, segala perselisihan ideologis antara organisasi saya dan organisasi lain sama sekali tidak berarti. Itulah yang setiap kali selalu diributkan, entah diskusi entah skenario demonstrasi.
Di atas semua itu, bisa jadi, saya hanya kurang pintar untuk memahami ideal-ideal yang dilihat oleh dunia aktivisme.
Sayangnya, banyak orang bilang, selepas mahasiswa seorang aktivis jadi pragmatis. Apalagi yang terang-terangan masuk parpol (sungguh, saya sangat tergoda untuk menyebutkan satu per satu). Tidak apa-apalah kalau mereka sekarang sudah bukan idealis lagi. Setidaknya kan pernah idealis. Ah, kok jadi mirip anekdot: mana yang lebih baik, bekas kiyai atau bekas maling?[]
Friday, October 23, 2009
Sentuhan Jawa dan khotib berwibawa
Di sebelah barat Simpang Lima yang terkenal di Semarang, ada sebuah masjid besar bernama Baiturrahman. Itulah masjid agung Kota Semarang. Jangan tertukar dengan masjid agung Jawa Tengah yang berada di Gayamsari, di bagian lain Kota Semarang. Di mesin pencari Google, misalnya, akan terlihat betapa orang-orang sulit membedakan dua masjid agung ini.
Jumat menjelang tengah hari itu kami sedang membikin konferensi pers di Mall Ciputra, juga di seputaran Simpang Lima. Wartawan bubar tepat saat adzan terdengar. Begitu menyadari bahwa masjid terdekat adalah masjid agung itu, pertanyaan pertama saya adalah, "Dapat tempat nggak ya..."
Setiap masjid agung setidaknya selalu khas dengan orang-orang yang berjubel. Bahkan tidak jarang jamaah sampai luber di pelataran. Makanya saya tidak begitu gemar sholat di masjid agung, untuk sholat Jumat atau Ied sekalipun. Masjid di gang-gang, atau di desa, terasa lebih takzim dan sederhana. Itu menurut saya. Tapi saya mengerti umumnya orang lebih senang sholat di masjid agung.
Begitu tiba di kompleks masjid, saya langsung menuju sebelah kanan. Konvensi ini tidak selelu berlaku, tapi tempat wudlu memang pada umumnya ditaruh di situ. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah jasa penitipan sandal dan sepatu. Mungkin boleh juga menitipkan barang lain. Tetapi saya, setelah mengamati sepatu saya sendiri, cepat memutuskan untuk tak usah dititipkan segala.
Tempat wudlu penuhnya bukan main. Mau berjalan masuk dan keluar saja selalu berjejalan. Apalagi, karena tempat sholatnya sendiri ada di lantai atas, dengan laintai di bawah digunakan sebagai perkantoran dan toko keperluan ibadah, menaiki tangga rasanya harus sabar macet. Sebenarnya ada tangga besar yang langsung menghadap ke jalan raya, tapi tangga itu tidak praktis dijangkau dari tempat wudlu. Sementara, tangga yang menghubungkan tempat wudlu dengan tempat sholat lebarnya tak lebih dari satu setengah meter.
Nah, begitu tiba di atas, barulah terasa agungnya masjid ini. Langit-langitnya menjulang, terdiri dari tatalan kayu yang mengingatkan saya pada tiang-tiang masjid Demak. Di dinding depan, di kiri kanan tempat imam, ada kaligrafi besar yang membnentuk setengah lingkaran dengan lafal Allah di tengahnya. Yang saya tidak mengerti, dua-duanya lafal Allah. Padahal biasanya kan, kalau kita beli kaligrafi, satu paket kiri-kanan adalah Allah-Muhammad.
Di tengah-tengahnya, tempat imam, dinaungi oleh atap joglo. Satu ikon yang membuat masjid ini bereferensi pada budaya Jawa, meskipun tidak sekental Masjid Agung Surakarta.
Sesi khotbah adalah yang paling mengesankan buat saya. Saya bukannya tidak tahu bahwa jamaah yang baik adalah yang sami'na wa atho'na, mendengar dan taat, atas apa-apa yang diserukan oleh pengkhotbah. Tetapi saya sering jengkel dengan pengkhotbah yang suka bicara lantang, berbuih-buih, sembari menudingkan kafir pada apa-apa yang tidak disenanginya. Mereka adalah tukang khotbah yang picik dalam melihat selisih faham sesama umat Islam, serta tidak sadar telah menularkan kebencian.
Untung tidak semua khotib seperti itu. Jumat itu di masjid agung Semarang, khotibnya bicara dengan santun, dengan perangai bahasa yang berbudi, dan ajakan yang sabar. Ia mengingatkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah yang mesti kita jalani dengan arif. Bahwa dalam hidup yang telah dianugerahkan pada kita ini, kita semestinya rela berdampingan dalam perbedaan.
Setelah selesai sholat Jumat, saya keluar dari masjid dengan perasaan tenteram. Menjadi Islam adalah juga menjadi islah. Damai.[]
Tuesday, October 13, 2009
Jenis kelamin dokter
Mungin kamu pernah dengar tebak-tebakan ini:
Ada seorang dokter pergi memancing dengan anak laki-lakinya. Tetapi dokter itu bukan ayah anak itu. Lalu siapakah si dokter?
Saya tidak bisa menjawab. Dan ketika tebak-tebakan ini saya tanyakan ke temen-temen, jawabannya juga tidak ada yang nyerempet. Ada yang jawab dokter itu bapak angkatnya lah, yang bapak tetangganya lah.
Tidak ada yang terpikir bahwa dokter itu adalah ibu dari anak itu.
Itu karena kita sering memberi jenis kelamin pada profesi. (Para feminis menyebutnya bias jender, atau sejenisnya, terserah mereka lah). Dokter, laki-laki. Petani, laki-laki. Tentara, arsitek, sopir, (maling, hehe): laki-laki. Sekretaris, baby sitter, perawat: perempuan.
Jebakan kedua adalah aktivitasnya. Memancing itu maskulin. Kita sulit membayangkan seorang ibu berinisiatif mengajak anak lelakinya, atau anak perempuannya, memancing. Kalau mengajak belanja, itu baru wajar.
Nah, kalau seorang Jenderal laki-laki bersembunyi di belakang menteri perempuan saat sedang didemo dan dihujat banyak orang, itu jelas tidak wajar dan melanggar kode etik perkelaminan. He he he.[]